Sejarah Desa

SEJARAH DESA JUNGSEMI

 

Desa Jungsemi merupakan salah satu desa yang terletak di pantai utara, yang penduduknya berpmata pencaharian Petani. Pada masa Kerajaan Mataram yang pimpin oleh Sultan Agung pada waktu itu masa penjajahan belanda, Raja Mataram memutuskan untuk mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda yang pada waktu itu berpusat di Batavia.

Untuk persiapan mengadakan perlawanan menghadapi Belanda, Raja Sultan Agung memanggil semua Adipati dan pembesar kerajaan untuk mengadakan pertemuan besar yang dipimpin oleh Sultan Agung sendiri yang sebelumnya tidak dikasih tau tempatnya dimana (dirahasiakan). Ternyata tempatnya di pesisir Utara (sekarang Makam Kemangi) dan dikelilingi pagar yang tidak kasat mata, Oyot Miman (penduduk setempat menyebutnya) agar pertemuan tidak bocor oleh telik sandi penjajah Belanda.

Setelah melalui musyawarah serta saran-saran dari para Adipati dan para pembesar Kerajaan, maka akhirnya diputuskan bahwa Mataram mengadakan atau menyatakan perang terhadap Belanda, Namun yang tadinya tempat musyawarah (sekarang Makam kemangi) dikelilingi oleh benteng yang tidak kasat mata (Oyot Miman penduduk setempat menyebutnya), belum dihilangkan sampai dengan saat ini, sehingga dimanfaatkan oleh para ahli spiritual.

Akhirnya Pimpinan dan Panglima perang pun disusun oleh dan ditetapkan, diantaranya Tumenggung Bahurekso beliau adalah Adipati Kendal dan Gubernur Pesisir Laut Jawa.

Dibayangkan bahwa Kendal akan maju dan menjadi tempat ramai dan menjadi pusat perhatian para Sentono kerajaan-kerajaan para Adipati, Tumenggung dan para pembesar kerajaan lainnya akan tertuju pada figur Adipati/ Tumenggung Bahurekso dan Kabupaten Kendal yang akan menjadi pusat persiapan perang dengan tentara VOC Batavia. Adalah beliau mbah Sokerto Wongso Dikromo (Mbah Laistiddin/ Simbah Kemangi) selalu mengajarkan kepada pengikutnya untuk membantai sifat-sifat rakus seperti penjajah VOC Belanda yaitu orang yang kulitnya berwarna bule, hingga sampai dengan saat ini selalu diadakan/ diperingati setiap 3-5 tahun sekali penyembelihan Kerbau bule (kerbau yang warnanya albino) yang diibaratkan orang Bule.

Kendal memiliki cacatan sejarah yang agung, pada saat itu Kendal menjadi tempat berkumpulnya para pembesar-pembesar kerajaan, banyak Adipati dan Tumenggung yang harus meninggalkan daerahnya dan berkumpul di Kendal.

Para pembesar kerajaan yang berkumpul di Kendal dalam rangka persiapan perang melawan Belanda di Batavia antara lain :

 

1.

Tumenggung Bahurekso

 

15.

Kyai Mojo

2.

Pangeran Purboyo

 

16.

Tumenggung Bagamanda

3.

Pangeran Juminah

 

17.

Raden Haryo Pungkono

4.

Tumenggung Mandurejo

 

18.

Raden Mutahar

5.

Tumenggung Upahasanta

 

19.

Tumenggung Pasir Puger

6.

Tumenggung Kertiwongso

 

20.

Pangeran Karang Anom

7.

Tumenggung Wongsokerto

 

21.

Pangeran Tanjung Anom

8.

Tumenggung Rajekwesi

 

22.

Tumenggung Panjirejo

9.

Raden Prawito Setyo

 

23.

Pangeran Puger

10.

Pangeran Kadilangu

 

24.

Tumenggung Singorono

11.

Pangeran Sojomerto

 

25.

Ario Wiro Notopodo (Suropodo)

12.

Raden Sulamjono (putra Tumenggung Bahurekso)

 

26.

Tumenggung Wiroguno

13.

Raden Banteng Bahu

 

27.

Raden Bagus Komojoyo

14.

Kyai Akrobudin

 

 

 

 

Juga masih banyak tokoh-tokoh yang hadir dalam pertemuan persiapan perang melawan tentara VOC Belanda ke Batavia.

Tumenggung Bahurekso memutuskan bahwa pertemuan persiapan perang tidak dilakukan di Kadipaten tetapi disebuah tempat yang dekjat dengan pantai,oleh karena itu peserta pertemuan akhirnya disepakati bahwa tempat pertemuan harus dirahasiakan, dan tempat yang dipilih ternyata di tengah hutan tepatnya dibawah pohon yang sangat rindang, dan pohon itu sekarang dikenal dengan nama pohon Kemangi yang terletak di Desa Jungsemi.

Disisi lain selama dalam pertemuan di Paseban Kemangi itu berlangsung, ternyata memunculkan cerita tutur yang menjadi kenangan masyarakat sekitar diantaranya suasana di daerah yang menuju ke Paseban Kemangi benar-benar ramai, karena banyak pertinggalan leluhur Mataram menuju tempat itu.

Disetiap sudut wilayah selalu dijaga oleh banyak prajurit baik yang berasal dari kadipaten Kendal maupun yang berasal dari daerah lain, untuk menuju ke Paseban Kemangi para petinggi Mataram tidak langsung ke tempat paseban, mereka lebih dahulu disambut untuk istirahat di Padepokan Laduni Faqoh dan milik Tumenggung RajekWesi yang punya panggilan Semboro dan juga Kyi Akrobudin.

Padepokan Laduni Faqoh memang mempunyai daya dorong dan daya spiritual yang sangat tinggi, baik terhadap para petinggi Mataram maupun prajurit lainnya, dan tempat itu kemudian diilhami oleh Ari Wiro Notopodo atau Suropodo.

Berawal dari cerita tersebut diatas, bahwa Desa Jungsemi berasal dari dua suku kata yaitu : Ujung dan Semi (bahasa jawa) Ujung bgerarti Pangkal dan Semi berarti Tambah atau selalu bersemi, jadi Jungsemi berarti suatu Desa yang terletak dipangkal Ujung utara atau pantai laut yang selalu bertambah luas.

Pada masa penjajahan Belanda, waktu itu Desa Jungsemi mulanya terdiri dari 2 (dua) Desa, yaitu Jungsemi bagian Timur adalah dukuh Kemejing, dan Jungsemi bagian Barat, yaitu dukuh Clumprit dan Srandu, kemudian disatukan pada masa dipimpin oleh :

 

1.

Tahun 1904-1920

Sumo atau Sumodiwiryo

 

16 Tahun

2.

Tahun 1920-1928

Sirum atau Sastro Diwiryo

 

  8 Tahun

3.

Tahun 1928-1936

Mohtar

 

  8 Tahun

4.

Tahun 1936-1945

Abdul Hamid

 

  8 Tahun

5.

Tahun 1945-1984

Soemarijo (Kades)

Soedaryo (Carik)

39 Tahun

6.

Tahun 1984-1994

Munawar Soebarjo (Kades)

Soedaryo (Carik)

10 Tahun

7.

Tahun 1994-2004

Zaenuri (Kades)

Sunarto (Carik)

10 Tahun

8.

Tahun 2004-2009

Sulton

Sunarto (Carik)

  5 Tahun

9.

Tahun 2009-2010

Randiman (PJ.Kades)

Sunarto (Carik)

  1 Tahun

10.

Tahun 2010-2016

Sugiyono (Kades)

Sunarto (Carik)

  6 Tahun

11.

Tahun 2016-sekarang

Dasuki (Kades)

Nur Khozin (Carik)