Sejarah

SEJARAH DESA JUNGSEMI
Desa Jungsemi merupakan salah satu desa yang terletak di Pantai Utara Jawa, yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani. Pada masa Kerajaan Mataram yang pimpin oleh Sultan Agung, ketika itu masa penjajahan Belanda. Raja Mataram memutuskan untuk mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda di Batavia.
Untuk persiapan mengadakan perlawanan menghadapi Belanda, Sultan Agung memanggil semua Adipati dan pembesar kerajaan untuk mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh Sultan Agung sendiri. Kendal memiliki cacatan sejarah besar, pada saat itu Kendal menjadi tempat berkumpulnya para pembesar-pembesar kerajaan, banyak Adipati dan Tumenggung yang harus meninggalkan daerahnya dan berkumpul di Kendal karena diputuskan bahwa Kendal yang akan menjadi pusat persiapan perang dengan tentara VOC di Batavia, tetapi tempat pertemuannya masih di rahasiakan.
Para pembesar kerajaan yang berkumpul di Kendal dalam rangka persiapan perang melawan Belanda di Batavia antara lain :
|
1. |
Tumenggung Bahurekso |
|
15. |
Kyai Mojo |
|
2. |
Pangeran Purboyo |
|
16. |
Tumenggung Bagamanda |
|
3. |
Pangeran Juminah |
|
17. |
Raden Haryo Pungkono |
|
4. |
Tumenggung Mandurejo |
|
18. |
Raden Mutahar |
|
5. |
Tumenggung Upahasanta |
|
19. |
Tumenggung Pasir Puger |
|
6. |
Tumenggung Kertiwongso |
|
20. |
Pangeran Karang Anom |
|
7. |
Tumenggung Wongsokerto |
|
21. |
Pangeran Tanjung Anom |
|
8. |
Tumenggung Rajekwesi |
|
22. |
Tumenggung Panjirejo |
|
9. |
Raden Prawito Setyo |
|
23. |
Pangeran Puger |
|
10. |
Pangeran Kadilangu |
|
24. |
Tumenggung Singorono |
|
11. |
Pangeran Sojomerto |
|
25. |
Ario Wiro Notopodo (Suropodo) |
|
12. |
Raden Sulamjono (putra Tumenggung Bahurekso) |
|
26. |
Tumenggung Wiroguno |
|
13. |
Raden Banteng Bahu |
|
27. |
Raden Bagus Komojoyo |
|
14. |
Kyai Akrobudin |
|
|
|
Juga masih banyak tokoh-tokoh lainnya.
Terbayangkan bahwa Kendal akan menjadi tempat yang maju dan ramai sehingga akan menarik perhatian para Sentono kerajaan-kerajaan dan para Adipati, figur yang menjadi perhatian para tumenggung beserta pembesar kerajaan adalah Adipati/Tumenggung Bahurekso.
Tumenggung Bahurekso memutuskan bahwa tempat pertemuan persiapan perang tidak dilakukan di Kadipaten tetapi di pesisir utara Jawa disebuah tempat yang dekat dengan pantai, karena para Adipati menghendaki bahwa tempat pertemuan harus tersembunyi dan rahasia, hasilnya tempat yang dipilih adalah di tengah hutan tepatnya dibawah pohon yang sangat rindang, dan pohon itu sekarang dikenal dengan nama pohon Kemangi sehingga tempat pertemuan tersebut dikenal paseban kemangi.
Saat pertemuan dilaksanakan agar kerahasiaan dan informasi tidak bocor oleh telik sandi penjajah Belanda, dibuatlah benteng yang tidak kasat mata mengelilingi lokasi pertemuan tersebut (Oyot Miman penduduk setempat menyebutnya). Setelah melalui musyawarah serta saran-saran dari para Adipati dan para pembesar kerajaan, Pimpinan dan Panglima perang pun disusun dan ditetapkan, diantaranya Tumenggung Bahurekso beliau adalah Adipati Kendal dan Gubernur Pesisir Laut Jawa salah satu panglima yang akan memimpin perlawanan terhadap Belanda di Batavia.
Di masa kini tempat pertemuan (paseban kemangi) tersebut masih ada dan benteng yang tidak kasat mata (Oyot Miman) belum dihilangkan. Sekarang, masyarakat luas mengenal tempat itu dengan nama Makam Kemangi, hingga kini beberapa masyarakat (khususnya para ahli spiritual) masih memanfaatkan Oyot Miman tersebut.
Dengan segala mitos tentang Makam Kemangi yang beredar di masyarakat, dalam sejarah Makam Kemangi adalah tempat yang mempunyai sejarah penting di Kabupaten Kendal dan menjadi saksi bisu perjuangan Pahlawan-pahlawan dalam melawan Belanda.
Di sisi lain ketika pertemuan di Paseban Kemangi itu berlangsung, memunculkan cerita tutur yang menjadi kenangan masyarakat sekitar diantaranya suasana di daerah yang menuju ke Paseban Kemangi benar-benar ramai, karena banyak peninggalan leluhur Mataram dibanyak tempat sepanjang menuju paseban kemangi. Disetiap sudut wilayah selalu dijaga oleh banyak prajurit baik yang berasal dari kadipaten Kendal maupun yang berasal dari daerah lain.
Ketika menuju ke Paseban Kemangi para petinggi Mataram tidak langsung ke paseban, mereka lebih dahulu disambut untuk istirahat di Padepokan Laduni Faqoh milik Tumenggung Rajek Wesi yang punya panggilan Semboro dan juga Kyai Akrobudin. Padepokan Laduni Faqoh memang mempunyai daya dorong dan daya spiritual yang sangat tinggi, baik terhadap para petinggi Mataram maupun prajurit lainnya, dan tempat itu kemudian diilhami oleh Ari Wiro Notopodo atau Suropodo.
Berawal dari cerita tutur tersebutlah nama desa jungsemi berasal, dari dua suku kata yaitu : Ujung dan Semi (bahasa jawa) Ujung berarti Pangkal dan Semi berarti Tambah atau selalu bersemi, jadi Jungsemi berarti suatu daerah yang terletak dipangkal ujung utara atau pantai laut yang selalu bertambah luas.
Lalu siapa sosok yang ada di makam kemangi?, adalah beliau mbah Sokerto Wongso Dikromo (Mbah Laistiddin/ Simbah Kemangi), sosok yang senantiasa mengajarkan kepada pengikutnya untuk menghilangkan/mematikan sifat-sifat rakus seperti yang dimiliki penjajah VOC Belanda (orang yang kulitnya berwarna bule), dari ajaran inilah hingga saat ini di makam kemangi selalu diadakan (setiap 3-5 tahun sekali) penyembelihan Kerbau bule (kerbau yang warnanya albino). Mengapa kerbau bule?, karena kerbau bule merupakan simbolis, pengingat agar kita selalu mematikan/menghilangkan sifat-sifat rakus seperti yang dimiliki penjajah VOC Belanda (orang yang kulitnya berwarna bule), tetapi inti dari acara tersebut adalah sedekah atas rasa syukur karena nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah S.W.T.
Pada masa penjajahan Belanda, waktu itu Desa Jungsemi mulanya terdiri dari 2 (dua) Desa, yaitu Jungsemi bagian Timur adalah dukuh Kemejing, dan Jungsemi bagian Barat, yaitu dukuh Clumprit dan Srandu, kemudian disatukan pada masa dipimpin oleh :
|
1. |
Tahun 1904-1920 |
Sumo atau Sumodiwiryo |
|
16 Tahun |
|
2. |
Tahun 1920-1928 |
Sirum atau Sastro Diwiryo |
|
8 Tahun |
|
3. |
Tahun 1928-1936 |
Mohtar |
|
8 Tahun |
|
4. |
Tahun 1936-1945 |
Abdul Hamid |
|
8 Tahun |
|
5. |
Tahun 1945-1984 |
Soemarijo (Kades) |
Soedaryo (Carik) |
39 Tahun |
|
6. |
Tahun 1984-1994 |
Munawar Soebarjo (Kades) |
Soedaryo (Carik) |
10 Tahun |
|
7. |
Tahun 1994-2004 |
Zaenuri (Kades) |
Sunarto (Carik) |
10 Tahun |
|
8. |
Tahun 2004-2009 |
Sulton |
Sunarto (Carik) |
5 Tahun |
|
9. |
Tahun 2009-2010 |
Randiman (PJ.Kades) |
Sunarto (Carik) |
1 Tahun |
|
10. |
Tahun 2010-2016 |
Sugiyono (Kades) |
Sunarto (Carik) |
6 Tahun |
|
11. |
Tahun 2016-2022 |
Dasuki (Kades) |
Nur Khozin (Carik) |
6 Tahun |
|
12. |
Tahun 2022 - Sekarang |
Dasuki (Kades) |
Nur Khozin (Carik) |